Islam Berkebudayaan: Akar Kearifan tradisi. Ketatanegaraan, dan kebangsaan
Rp 150.000
Tersedia
| Penulis | M. Jadul Maula |
| Cover | Softcover |
| Halaman | 401 hal. |
| Tahun | 2026 |
| Penerbit | Pustaka Kaliopak |
Catatan Produk
Setelah hampir empat tahun lenyap dari peredaran pasar buku, Islam Berkebudayaan: Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan dan Kebangsaan karya KH. M. Jadul Maula akhirnya kembali hadir dalam edisi baru. Selama masa itu, cetak ulang belum dilakukan. Namun dalam perjalanan, kami menyadari bahwa buku ini bukan hanya perlu dihadirkan kembali, tetapi juga perlu ditambahkan beberapa hal untuk membantu pembaca memahami gagasan besar yang ingin dibawanya. Maka, di bulan Agustus—bulan kemerdekaan, dan bersamaan dengan momentum Muktamar NU ke-35—buku ini kami hadirkan kembali dengan wajah dan isi yang diperbarui.
Dikemas dengan sampul baru yang lebih eksklusif, edisi ini dilengkapi Mukadimah panjang yang secara khusus membedah apa yang dimaksud dengan Islam Berkebudayaan. Beberapa tulisan terbaru turut disusulkan, memperluas pergulatan pemikiran tentang tradisi, kemanusiaan, ketatanegaraan, dan kebangsaan. Buku ini kemudian dipungkasi dengan sebuah epilog yang menggetarkan—sebagai ajakan untuk melihat kembali ke mana arah perjalanan bangsa ini di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.
Islam Berkebudayaan lahir dari keyakinan bahwa Islam di tanah Nusantara tidak pernah berhenti menjadi kebudayaan. Ia bukan sekadar seperangkat hukum yang turun ke ruang kosong, melainkan energi hidup yang terus bergulat dengan tanah, bahasa, tradisi, kekuasaan, dan zaman—dari masjid dan pesantren, keraton dan kampung nelayan, hingga layar gawai dan algoritma. Islam dihayati bukan hanya sebagai doktrin keagamaan, tetapi sebagai cara manusia memahami diri, sesama, alam, dan kehidupan bersama.
Buku ini bertumpu pada dua gerak yang saling melengkapi: gerak ke dalam diri (suluk/thariqah) dan gerak ke luar diri (khidmat/mu'amalah). Keduanya seperti dua kepakan sayap yang memungkinkan manusia menjadi utuh: menyelami batin untuk menundukkan hawa nafsu dan menemukan kedalaman spiritual, sekaligus kembali ke tengah masyarakat untuk menghadirkan kasih sayang, keadilan, kesejahteraan, dan tanggung jawab ekologis. Dari sini, warisan Islam Nusantara tidak dibaca sebagai nostalgia atas masa lalu, melainkan sebagai horizon etis untuk membaca sekaligus mengubah keadaan kita hari ini.
Melalui tiga poros—akar kearifan tradisi, ketatanegaraan, dan kebangsaan—buku ini menelusuri bagaimana khazanah Islam Nusantara dapat menjadi sumber gagasan bagi Indonesia yang lebih manusiawi dan berkeadaban. Di tengah oligarki, politik identitas, krisis ekologi, dan penjajahan algoritma, kita diajak untuk tidak terus-menerus meminjam cermin dari tempat lain, melainkan menyalakan kembali cermin dari khazanah kita sendiri.
Edisi baru Islam Berkebudayaan ini, dengan demikian, tidak hanya menawarkan rekam jejak pemikiran seorang budayawan. Ia adalah sebuah alternatif pemikiran, sekaligus manifesto kebudayaan: sebuah ajakan untuk kembali bertanya tentang manusia seperti apa yang hendak kita bentuk, negara seperti apa yang hendak kita bangun, dan bangsa seperti apa yang ingin kita wariskan. Lalu, ke mana gerak bangsa ini hendak diarahkan ke depan?
Dikemas dengan sampul baru yang lebih eksklusif, edisi ini dilengkapi Mukadimah panjang yang secara khusus membedah apa yang dimaksud dengan Islam Berkebudayaan. Beberapa tulisan terbaru turut disusulkan, memperluas pergulatan pemikiran tentang tradisi, kemanusiaan, ketatanegaraan, dan kebangsaan. Buku ini kemudian dipungkasi dengan sebuah epilog yang menggetarkan—sebagai ajakan untuk melihat kembali ke mana arah perjalanan bangsa ini di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.
Islam Berkebudayaan lahir dari keyakinan bahwa Islam di tanah Nusantara tidak pernah berhenti menjadi kebudayaan. Ia bukan sekadar seperangkat hukum yang turun ke ruang kosong, melainkan energi hidup yang terus bergulat dengan tanah, bahasa, tradisi, kekuasaan, dan zaman—dari masjid dan pesantren, keraton dan kampung nelayan, hingga layar gawai dan algoritma. Islam dihayati bukan hanya sebagai doktrin keagamaan, tetapi sebagai cara manusia memahami diri, sesama, alam, dan kehidupan bersama.
Buku ini bertumpu pada dua gerak yang saling melengkapi: gerak ke dalam diri (suluk/thariqah) dan gerak ke luar diri (khidmat/mu'amalah). Keduanya seperti dua kepakan sayap yang memungkinkan manusia menjadi utuh: menyelami batin untuk menundukkan hawa nafsu dan menemukan kedalaman spiritual, sekaligus kembali ke tengah masyarakat untuk menghadirkan kasih sayang, keadilan, kesejahteraan, dan tanggung jawab ekologis. Dari sini, warisan Islam Nusantara tidak dibaca sebagai nostalgia atas masa lalu, melainkan sebagai horizon etis untuk membaca sekaligus mengubah keadaan kita hari ini.
Melalui tiga poros—akar kearifan tradisi, ketatanegaraan, dan kebangsaan—buku ini menelusuri bagaimana khazanah Islam Nusantara dapat menjadi sumber gagasan bagi Indonesia yang lebih manusiawi dan berkeadaban. Di tengah oligarki, politik identitas, krisis ekologi, dan penjajahan algoritma, kita diajak untuk tidak terus-menerus meminjam cermin dari tempat lain, melainkan menyalakan kembali cermin dari khazanah kita sendiri.
Edisi baru Islam Berkebudayaan ini, dengan demikian, tidak hanya menawarkan rekam jejak pemikiran seorang budayawan. Ia adalah sebuah alternatif pemikiran, sekaligus manifesto kebudayaan: sebuah ajakan untuk kembali bertanya tentang manusia seperti apa yang hendak kita bentuk, negara seperti apa yang hendak kita bangun, dan bangsa seperti apa yang ingin kita wariskan. Lalu, ke mana gerak bangsa ini hendak diarahkan ke depan?
Deskripsi Produk
Editor: Inyiak Ridwan Muzir
Ilustrator Sampul: Muhammad Reovany
Desain Sampul: Akbar Binbachrie
Layout: Syaddad Nabil
Peracik Buku: Doel Rohman, Doel Rohim, Zulfan Arif
Produksi: Zuhdi Riyan, Malik Hamdani
Cetakan I: September, 2019
Cetakan II: Januari, 2020
Cetakan III: Agustus, 2021
Cetakan IX: September, 2023
Edisi Baru: Agustus, 2026
Ukuran Buku: 15 x 24 cm
Cover: Ivory 250 gram, Laminasi Doff, Spot UV
Jumlah Hlm: 401